Header Blog

Monday, April 13, 2009
We do not commit, we love each other

I must have been out of mind when i try to be such a loyal person that gives attention more than I used to be, giving you wake up call, asking some peculiar ‘sedang-apa-sudah-apa-belum-akan-apa?’ questions, yet spilling out the common greetings like a daily routine. Yeah, I might even wonder what kind of creature are you that made me do things like that?


So this evening when i read your messages, i feel like i can related to it and could not agree more. Sometime I wish I could live side by side with you. Giving more extra attention than I ever did before, top up my Three Words collected scores in the left column and beat down your scores, catch you up with the way of your thought, being such a teddy bear with intolerably cute image, so every part of my body is free to be hugged. Believe me! I wish I had to.


I tell you some hideous things, things i don't tell others. i wonder if you really listen, but for me it’s not a big deal. You already know how I am impersonated with the ability of your understanding, I’ve told you before, it’s one of your hidden beauties, so from now on don’t even get so down if I call you ‘Lemot’, because it’s  a compliment like I call ‘Munafik’. Ehmm, should I put *j mark on the page below? I know you might even think all of this rant is not true but lies, I said ‘I miss you’ or ‘I love you’ for instant. Indeed, I spoke three times spoken and ninety nine of times whispered. Again, you might think i told you lies, no i did not….okay then, I LIED!. I whisper the Three Words like sixth hundred and sixty sixth times a day, and that's just never enough.

 

Who the real are you? Give me a call if you already know who you are…


Posted at 04:17 am by saratdusta
Comments (2)  

Tuesday, March 31, 2009
Quote of The Week!

“Ehmm, sebenarnya menurutku kamu dari dulu memang idealis realis. Gak semua orang bisa mengerti atau menerima. Tapi kamu yang sekarang, mulai mengingkari (A)llah. Kamu semakin sombong, hanya karena secuil ilmu. Padahal nggak semua bisa diukur pakai logika, tapi pakai hati. Dan tanda - tanda (A)llah adalah nyata, tapi nikmat (A)llah mana yang kamu dustakan? Akhirnya kamu makin jauh… aku sedih.”

 

Originally been spoke by Irma Rositha  -a best friend ever, a contemplative unpopular singer-  about my infidelity nowadays. i might one day change the way of my thought, but the religious order that imprison me in?

Posted at 04:49 am by saratdusta
Comment (1)  

Friday, March 13, 2009
Takikardia, tremor, berkeringat dingin, pokoknya saraf-saraf simpatis yang akan terpengaruh..

He  :   Free me from such jealousy, the chance that I shouldn't have.

I feel so small in spilling out such honesty, nothing good you could see in me.

 

She : is it a song?

 

He :   It's a mind talk, I thinks of it lately, things that does bother me so much

 

She : Your mind always amaze me

 

He :   It's not amazing while you lose your identity in this wilderness. I miss the time when people still love the postman, when people still do write letters to others.

Ehmm.. It's kinda joke or what, you said you're a mate, the bestest one, yet you keep doing and saying the opposite. You smell of past memory, but again I am always let you win Ishtar.

 

She : Hmmm..

 

He :   Do you know how these emotions came up both? Pleasure and pain at the same time? why time got to run while me still have my heart leave behind?

 

She : Apa aku selalu memberimu rasa rindu dan di muak saat bersamaan?

 

He :   Did I don't got u clear?

 

She : Yes, I am lil bit confused

 

He :   Which part?

 

She : This one,

" It's kinda joke or what, you said you're a mate, the bestest one, yet you keep doing and saying the opposite. You smell of past memory, but again I am always let you win Ishtar."

 

He :   How's a mate should be?

 

She : Loyal..honest..loving..

 

He :   So, what's the opposite?

 

She : Hehe..like me?

 

He :   Ishtar nowadays, and Ishtar in the next future could be like that, it's a funny things when u said 'mate' word, isn't it? That's why you smells past.

 

She : I don't know the nowadays Alfian, I don't like knowing you taking anti-depressaant drugs.. that why I act don't care! Coz I don't know who you are now.. I smells past coz I love the old Alfian and better than the one he is right now.

 

He :   Ah it'll be a thick book if I write down the story, but at least i'm stopping it, except the atheism. My mind can't be blamed for that. Darn,, I realize this all of sudden, where are those good old times gone?


Posted at 09:41 pm by saratdusta
Make a comment  

Night of The living Dead


" It's the wood that should fear your hand, not the other way around. No wonder you can't do it, you acquiesce to defeat before you even begin. "
                                                                                             - Pai Mei, Kill Bill Vol.II

            Aku berada di dalam peti mati. Gege pernah menyarankanku untuk mendobrak papan penutup peti mati itu, mungkin Gege membayangkan aku adalah seorang Beatrix Kiddo yang mengancurkan tutup peti mati dengan buku - buku jarinyanya, tapi sayangnya aku tak punya kekuatan seperti pengantin wanita yang dipenuhi balas dendam itu. Ada tumor ganas yang mengerogoti jaringan tubuhku, dan aku cuma menunggu menjadi zombie seutuhnya.

 

              Di tengah lingkungan baru dengan tekanan kerja yang lebih besar dari sebelumnya, dan yang terutama berada jauh dari para sahabat yang biasa berbagi leher botol yang sama, dan isi perbincangan yang tidak akan aku dapatkan di tengah tuntutan target produksi dan upaya menjaga  keselamatan kerja dan lingkungan yang gencar dibicaran setiap pertemuan pagi. Sungguh aneh mendengar regulasi yang dibuat agar pro terhadap lingkungan ketika di satu sisi lahan hutan yang berhektar - hektar digusur dengan alat berat, lalu proses blasting, dan pengupasan tanah demi mengambil si mutiara hitam itu. Setiap kali kebijakan K3L itu disuarakan, perutku hampir saja memuntahkan sarapan pagi yang baru saja kumakan.

              

               Mono membantuku melewati menit - menit menjelang tidur yang jamnya bergeser lebih awal sekali, dan pada setiap crescendo-nya, aku hampir membasahi bola mataku. Adalah salah satu cara yang baik membunuh seseorang dengan menguburnya hidup - hidup, dan meninggalkannya sendiri di bawah sana berjuang mencari napas, dan mati dengan derita yang menyakitkan ketika otak mengalami pendarahan hebat akibat terbatasnya oksigen.

              

"Selamat dating di neraka jahanam yah!" ujar Dandy. Yah aku mencuci dosa - dosa ku di sini, karena aku yakin setelah hidup ini tak ada siksaan yang abadi lagi.



Posted at 08:40 pm by saratdusta
Make a comment  

Wednesday, March 04, 2009
It's a dead end, isn't it?

Dinda      :  Brad! Tadi aku megang rusa dong!

Alfie        :  Kalo hidup di alam liar mungkin kamu akan memotong lehernya untuk sumber makanan!

Dinda     : Yahh! Kasian dong! Aku makan sayur ajah...

Alfie        : Ah ga mungkin, selama kamu punya taring kamu akan sulit menghindari daging di alam liar, lagipula ngebunuh rusanya gak buat menuhin kebutuhan pasar, 1 rusa bisa buat persediaan daging selama 7 hari!

Dinda      :  Ya oke lah, seenggaknya jadi gak ada pembantaian binatang setiap harinya buat menuhin permintaan pasar.

Alfie        :  Nah, ngerti kan gimana buruknya peradaban modern?

Dinda      :  Iya aku tahu, tapi sekarang semua terkondisikan seperti itu. Enggak lagi orang berkomuni lalu berburu buat makan daging hari ini. Setiap orang sekarang bangun tidur lalu bekerja sesuai pekerjaan mereka, dan waktu mereka ingin makan daging mereka akan mendapatkannya dari pasar yang udah menyediakan daging itu. Bahkan kamu mau gak mau melakukannya juga bukan?



 

...

(hening)

Posted at 03:27 am by saratdusta
Make a comment  

Friday, February 06, 2009
Amorfati!




She   : I owe you! Thank for saving my life for this month =)

He    :  Uhh ... I don't save any life!

She   : Well ... you gave me the money, that make me able to survive the month ..it's saving life to me. Btw.. I won't gave u dose to end your life, I'm not the goddess of death =P

He     : How about arsenic, please?

She   : What for? You don't have the right to end your life ..never does ..never will! And don't even think about it again, ever!

He     : A happy death ..

            Oukay, I shouldn't talk this matter to (you) Ishtar.

She   : Yup.. don't ever talk bout this with me or anybody..! you must love your life.. it's worth every breath to be thankful for our life. Please ..this world need you!

He     : Haha .. I don't take that as a compliment, though!

She   : It's not a compliment anyway.. it's true. As long as your alive it means it's still your time to keep walking above the ground, not being underground in a coffin.

He     : Ah quit it! Why we still talk about this? Oh yeah, in case of emergency, I wish had a chance to kiss your lips.

She   : Haha.. suddenly I remembered a song, the title is "A Kiss to Build A Dream On"...

            ini pulsa terakhir.


Posted at 06:04 pm by saratdusta
Make a comment  

Cuci muka dan kenakan pakaianmu.

"Believe it or not, I dreamt about you!"

                            01:00:30 PM, 01-02-2009

 

            Pernyataan di atas adalah bumbu manis dalam sebuah interaksi, melampaui batas kata rindu yang santer diucapkan hingga menihilkan arti. Tapi terkadang pernyataan di atas bisa tidak berarti apapun ketika kamu memang tidak terlalu memperdulikan si empunya mimpi memimpikan dirimu dengan sebenarnya ataupun si empunya mimpi sudah tidak seharusnya bermimpi apapun tentang interaksi kalian berdua. Tapi bagaimana jika seandainya mimpi itu memang punya arti tertentu, entah sebagai tafsir perilaku seperti yang pernah dipelajari oleh Sigmund Freud yang telah membuat sebuah buku kajian tentang Psikiatri yang membahas tafsir mimpi sebagai bentuk represitifitas alam sadar kita terhadap kondisi faktual. Atau mimpi itu mengartikan bahwa masih ada sesuatu yang masih patut layak dibina di antara kalian berdua, dan jika seandainya mimpi itu memang tidak terjadi dan si empu mimpi 'seolah memanifestokan' mimpi tersebut ke dalam bentuk kejadian yang sudah berlalu dan kecil kemungkinannya untuk diingat, sehingga tidak memungkinkan bagi si empu menceritakan kembali isi mimpi karena telah lupa, walaupun diminta sekalipun. Maka sepatutnya tafsir dan 'manifesto' yang dilakukan oleh si empu mimpi itu adalah sebuah sinyal baik bagi keberlangsungan interaksi, dan satu hal yang patut dicatat! membuat orang lain merasa tersanjung itu memang pantas dilakukan, walau dengan cara - cara apa saja. Jadi jangan sekali - kali membahas isi mimpi tersebut, tapi bahaslah sisi menarik dari si empunya mimpi. Karena dari sisi menarik itulah didapat bekal untuk memimpikan balik si empunya mimpi ...dan sekali lagi 'seolah memanifestokan' mimpi ke dalam dunia nyata itu masih layak dilakukan ketimbang mengkhianati. Jujur berdusta memang hal ambigu yang bisa membantu di satu sisi.

 

 

            Seharusnya paragraf ini berakhir, tapi masih ada represitifitas dalam pergolakan psikisku,,, Baiklah, untuk menjadi yang melebur ingkar janji dan perkataan dusta, sesungguhnya aku tidak perduli lagi sebanyak apapun kamu memimpikan diriku, itu sudah tidak bermakna apapun. Saatnya bergerak di dalam dunia nyata, bukan sekedar imajinasi, atau rima yang penuh rangkaian 'Jika'. Mungkin aku membutuhkan kamu di sini, walaupun ragunya lebih banyak.


Posted at 05:52 pm by saratdusta
Make a comment  

Tuesday, January 13, 2009
TV Untuk Semua...Agar Amarah dan Resah Kami Padam

            Waktu luang ini dimulai dengan segelas kopi kemasan instan dan sebatang rokok dengan seragam kerja masih melekat di badan sehabis pulang kerja, ruang tengah mess bujangan dimana teman-teman sepekerjaan duduk anteng menatap pendar TV yang menyala dengan sedikit noise akibat koneksi kabel yang kurang baik. Instrumen elektronik itu menyita hampir seluruh perhatian dan kehidupan kami para penghuni mess dari rasa jenuh yang dapat meradang jika opsi mematikan TV dari kehidupan monoton kami benar-benar dilakukan seperti jargon tentang dunia tanpa TV. Jika seandainya TV difatwakan Haram oleh otoritas religi tertinggi di negeri ini, maka larangan baru itu akan menjadi dosa rutin yang dapat menjegal langkah mulus kami (lebih tepatnya mereka) melenggang ke Surga. Tidak satu pun dari kami berpikiran meninggalkan aktifitas tonton-menonton yang dipancarkan tabung katoda di tengah remote area semacam ini. Setidaknya selama masih ada promosi perang tarif telepon selular yang kompetitif dan mengelabui; kontes keahlian yang membuat batas antara impian-kenyataan  menjadi lumer; bulir obat tetes mata yang mengalir dari pelupuk mata dan plagiaterisme sinema yang judulnya lebih mirip akte kelahiran; berita hasil suntingan yang terlihat faktual, maka menghabiskan waktu luang dengan menonton TV bisa sangat terlihat rekreatif. Terbukti sofa di depan TV itu tak pernah sepi hingga tengah malam. Semakin lama kami melebur dalam komunikasi gagap yang terbatasa pada instruksi kerja pada keesokan harinya, alih-alih memaksimalkan fungsi mono-dualisme kami yang status relasi horizontalnya semakin hambar. Sesungguhnya kami mencintai TV karena kami sudah tidak fasih bertanya kondisi teman sekamar kami.

 

            Rokokku sudah tinggal setengahnya ketika temanku mengambil alih remote control mengganti saluran TV dangdut lokal dengan saluran film 24 jam multi nasional. Voila! Film Happy Feet bercokol di sana, tepat ketika Mumble menemukan Lovelace terjerat lehernya di dalam lingkar plastik kemasan pengikat minuman kaleng. Ah! Ingatanku tentang film ini menjadi terulang kembali, tragedi kelangkaan sumber ikan dan pencarian jawaban atas sebab-musababnya mengingatkanku tentang keresahan yang melanda orang-orang bertendensi di bawah naungan kata 'Galau'. Orang-orang yang menakar muatan silogisme antara 'fakta' masa kini dengan 'mitos' masa lampau lalu meyakini bahwa kebenaran 'fakta' masa kini dibentuk oleh imaji 'mitos' masa lampau, termasuk di dalamnya pencarian makna identitas manusia atau personalitas perorangan seolah tak dapat dipenuhi dengan mengkhatamkan setumpuk literatur dan sabda-sabda kitab suci.

 

Aku tidak siap membayangkan sentilan ide animasi bergrafis tinggi itu tentang kepongahan manusia di atas bumi harus segera diakhiri, terlebih dalam kondisi waktu luangku saat ini. Aku tidak siap mendengar kembali re-definisi 'ALIEN' dalam substansinya sebagai sesuatu yang di luar bumi, dan bagaimana sinisme ALIEN itu bisa tepat guna memposisikan MANUSIA (Homo Sapiens Sp.) sebagai figur Extra Terrestrial di mata seekor PINGUIN (Aptenodytes Forsteri Sp.) yang masih berkerabat dalam satu Filum Kordata di sistem klasifikasi Carolus Linnaeous. Refleksi yang sama ketika manusia menemukan pesona E.T/third kind/sesuatu di luar nalar sebagai penyebab sebuah kenormalan dapat berubah menjadi anomali. Perspektif personifikasi akan konspirasi penculikan oleh U.F.O dan domestifikasi di dalam kabin berteknologi canggih yang diasosiasikan sebagai 'Surga', surga yang menghilangkan suara dan akal pikiran sebagai perlawanan terakhir, surga yang secara harfiah kuartikan sebagai bentuk kehidupan manusia dewasa, surga yang dikungkung kaca tebal dan tembok berhiaskan mural artifisial habitat lingkungan kita, surga yang ditonton oleh para ALIEN dengan tujuan hiburan atau bahkan sumber pengetahuan. Perspektif yang dapat kulihat secara gamblang jika tak dapat kukatakan sebagai parodi bahwa definisi ALIEN itu sudah tidak asing lagi bagiku, U.F.O beserta pengemudinya telah menukar waktu luang, kebebasan, dan naluri keliaran kita menjadi sesuatu yang bernilai tinggi dan bahkan tereduksi menjadi mimpi, dan mereka berada di balik kaca tebal ini memberi makan agar kita tetap hidup tanpa hasrat, mereka yang berbentuk hampir sama secara fisiologis seperti aku namun kucurigai memakai penyamaran agar tidak terlihat identitas monster sebenarnya. Tragisnya satu dari pesan moral di film ini harus mengutip kalimat dari bait terakhir ikon kaum pemimpi seperti yang dikatakan The Beatles, "The love you take is equal to  the love you make". Butuh lebih dari sekedar mimpi untuk mencintai kebebasan hidupmu, kebebasan untuk mencintai hidup itu sendiri, dan menghidupkan hidup itu pula.

 

Di penghujung credit tittle film itu aku mencoba melihat manusia di bumi ini dari sudut pandang si ALIEN tersebut dengan teropong a la Google Earth yang bisa di-zoom in dan di-zoom out.  Tidak jauh beda seperti komunitas zebra di savana Afrika, buaya di perairan rawa Florida, dan cacing di setiap makam. Manusia tidak dapat dipisahkan dari definisi hewan, karena di biosfer ini hanya dapat kulihat tiga golongan pembentuk keseimbangan dengan alam yaitu produsen, konsumen dan pengurai, bahkan manusia juga konsumen itu sendiri. Lalu pertanyaannya adalah siapa yang punya hak ekslusif berada di puncak piramida biosfer bernama bumi ini?. Malangnya menonton TV di waktu luangku kali ini dengan tujuan melepas ketegangan setelah rutinitas kerja malah melahirkan romantisme akan kehidupan pra penculikan U.F.O itu serta kesadaran akan kehilangan identitas yang semakin menguat. Sesuatu yang melenceng dari apa yang kupercayai sebagai upaya merevitalisasi kondisi fisik untuk rutinitas keesokan harinya. Kaca-kaca tebal itu mulai terasa di depan hidungku. Sementara gerah akibat debu-debu industrial yang menempel di badanku mulai menerjang, rutinitas waktu luang selanjutnya adalah berada di bawah guyuran shower, eskapis temporer yang bisa sedikit meredakan bara yang tertungkup di bawah rambut ikalku. Setelah bermenit-menit di bawah kucuran air dan gemuruh instrumental Yndi Halda dari speaker PC-ku yang kuset nyaring volumenya, membawaku pada sebuah pernyataan yang kukirimkan lewat pesan singkat ke beberapa temanku:

 

"Me-rewatch Happy Feet, memperjelas visual perspektif keterasingan manusia dari alam, dominasi hewan manusia akan membawa apokalipsnya sendiri, apa tuhan menciptakan bumi untuk manusia? atau bumi menciptakan tuhan untuk manusia?. Bumi sudah tidak sama lagi semenjak manusia menganggap dirinya istimewa. Beruntung mereka yang menemukan ke-hewanan-nya kembali."

 

Dan pesan singkat itu menghabiskan Rp.200,- untuk sekali kirimnya karena menghabiskan 2 halaman, 2 kali lipat dari harga nominal 1 pesan singkat. Inikah yang dimaksud mengirim kembali harga yang didapat atas transaksi penukaran waktu luangku dengan uang, ke jejaring U.F.O dan ALIEN itu?, maka sesungguhnya para ALIEN itu tidak memberi celah sedikitpun kepadaku untuk mengenal kata hak milik, dan kebebasan yang tergadaikan secara permanen itu nyata adanya. Lalu di manakah waktu luang sebenarnya? Bukankah di TV yang kami jenguk setiap hari itu selalu mengabarkan informasi paket liburan dan cara-cara bersenang-senang di alam terbuka?. Sayangnya kami tidak pernah marah apalagi resah karena kami masih dapat dihibur dengan tontonan yang membuat mimpi kami berkembang biak melebihi populasi seluruh mahluk hidup penghuni bumi ini.

 

***

Aku mendapat satu balasan dari pesan singkatku

"Aku hampir menemukannya. Pertanyaan besar tentang bumi dan tuhan? Siapakah yang menciptakan kedua kekuatan itu?." balas Jali.

Keesokan paginya 1 pesan masuk ke inbox, ah dari Dandy rupanya

"Manusia emang paling kreatiflah. Sampe-sampe spesiesnya aja dibikinin kandang. Dunia dipenuhi penjara. Congratulation!"

 

***

Posted at 09:10 pm by saratdusta
Make a comment  

Saturday, January 10, 2009
Jurnal Kelapa Sawit

Sudah menjadi kebiasaanku mengomentari sesuatu dalam kondisi yang mendesak dengan ala kadarnya, terkadang terdengar pedas, sinis, atau bahkan sangat memuji. Dari sekian kalimat komentar yang meluncur dari mulutku untuk menilai sesuatu banyak berujung di pilihan pertama, katakanlah rasionya sebesar 60 - 40. Ini bukan sesuatu yang menggangu buatku, tapi mungkin agak sedikit jengah bagi orang lain, bahkan saking spontannya, aku menggunakan padanan atau kombinasi kata yang agak membuat keningku sendiri berkernyit setelah beberapa waktu kemudian mempertimbangkannya. Sudah jadi pilihan setiap orang untuk menghindari konflik dan memperpendek masalah, hal tersebut mungkin agak sedikit bersifat anomali untuk kondisi dimana komentarku dipertanyakan sebab-muasalnya, memperpanjang debat kusir dan memelihara tegangan adalah pilihan yang harus aku pilih untuk menjawab tanggapan atas komentarku, terkecuali dominasi halusinatif dan penat menjajah tubuh ini.

 

            Sepulang mengantar kuitansi berobat untuk disetorkan ke HRD, aku berpapasan dengan Rhesa di depan gang rumah orang tuaku. Sudah bukan kebiasaan kami lagi untuk melakukan rapat atau pertemuan kecil membahas proyek kolaboratif, berburu film di lapak DVD, sekedar berbincang tentang sejumlah hal yang berkaitan dengan sisi musikalitas kami, atau pandangan-pandangan delusional yang bertendensi pada ego personal masing - masing. Yah sudah lewat sepertinya masa semacam itu, kami memiliki independensi rekreasi kami masing-masing sekarang, agak terlihat jarak dalam makna pertemanan ini, mungkin ini sudah tiba waktunya aku melihat garis batas tentang posisi: teman - bukan teman - lawan. Kehadiran Rhesa di malam itu sudah dapat kuduga sebelumnya, beberapa hari sebelumnya ia memutuskan menjalankan sendiri proyek zine kolektif yang seharusnya bernama Damaged #3 --seharusnya pula terbit sebelum akhir tahun-- itu menjadi (semi) personal e-zine berformat PDF dengan nama Illuminer. Damaged #3 adalah sebuah proyek zine tentang musik dan kultural kreatif dengan implikasi pada term musik dan budaya yang 'cerdas', atau katakanlah bermutu sebagai identitas yang mengakomodir ketertarikan para penulisnya pada media alternatif . Proyek ini melibatkan Jali sebagai kontributor, aku sebagai layouter dan kontributor, dan Rhesa sendiri sebagai editor, pertanyaan kenapa proyek zine kolektif itu gagal adalah misteri yang tersimpan di antara kami bertiga. Pengulangan penundaan yang disebabkan beragam hal absurd yang berhulu dari mimpi kami tentang indie magz versi kota kami yang tampak glossy dan berstandar nasional akhirnya bermuara pada siapa yang benar-benar berminat dan serius tentang ini semua. Yap! Rhesa adalah jawaban bagi ini semua, ia menyelesaikan apa yang ia idamkan, dan aku telah kehilangan semangat untuk memindahkan materi - materi yang sudah tuntas tinggal menunggu di-layout itu, seperti yang aku bilang apa yang menyebabkan itu semua adalah satu sirkumtansi yang tidak dapat aku sebutkan sebagai gejala alam, kondisi kejiwaan mungkin bisa mewakilinya, tapi jangan kaitkan dengan posting-ku sebelumnya, itu bukan apa-apa!.

            Kami lalu menuju beranda rumah orang tuaku, dengan antusias aku meminta kopi Illuminer, karena aku sangat yakin ia sudah menyelesaikan e-zine itu dan sudah menjadi kebiasaan memberiku kopi tulisan karya - karyanya dan memperbincangkannya adalah salah satu aktifitas pertemanan kami. Selain itu aku penasaran melihat bentuk cetaknya, mengingat aku sendiri sudah mengerjakan sebagian layout (yang seharusnya bernama) Damaged#3! walaupun akhirnya itu tidak berguna lagi tapi bagiku melihat semangat seseorang yang keukeuh adalah daya tarik sendiri. Illuminer#1 itu di-layout dengan Microsoft Publisher 2007, alih - alih dengan CorelDraw seperti rencananya semula, dan plug-in untuk menyimpan berkas dalam format PDF juga belum dimiliki olehnya, jadi kemungkinan e-zine ini belum beredar di multiply waktu itu. Tepat seperti sangkaanku, satu kopi Illuminer#1 diberikan secara percuma kepadaku lalu Rhesa bertanya soal tampilan Illuminer#1 ...ehmm aku berpikir sejenak...

 

"Kok ngingetin aku sama jurnal soal kelapa sawit ya!?"

"Kelapa sawit apanya? lihat materinya, udah rada mirip Disposable Underground itu tampilannya!".

"Yah abisnya, ini kayak jurnal-jurnal tentang perkebunan gitu, yang isinya soal harga kelapa sawit, biasa buat referensi stock exchange, penuh tulisan dan gak mengundang...".

"Ah tampilannya gak saya kejar, yang saya kejar yang mau baca, itu kan tujuannya PDF e-zine?, lagian ini bakalan diedarin di internet juga dengan segmen mereka-mereka yang ngerti soal musical taste yang bagus. Jaman segini banyak PDF - PDF zine kayak gini dengan tampilan lumayan tapi isinya mengecewakan, kita yang punya potensi kenapa gak mencoba menulis, sia - sia udah nulis terus ga jadi cetak malah dibaca sendiri. Ada hasilnya, ketimbang nungguin kamu nge-layout."

"Yah kan udah kubilang, atmosfernya gak baik, lagi moody."

"Yah nikmatin aja atmosfer kamu itu."

 

Rhesa memang benar tentang satu hal, mengekspos sesuatu yang kita yakini dan kita banggakan adalah kebutuhan apresiasi yang sudah menjadi ciri dasar manusia. Mungkin semangat itu sudah bertransformasi ke bidang yang lain, semenjak belakangan terakhir aku dan sejumlah kawan-kawan giat berkolektif pada bidang yang jauh dari soal musikalitas segala macam. Ini terbukti posting soal ulasan musik, buku, atau film sudah jarang kulakukan lagi, padahal hampir setiap kali selesai mendengarkan 1 album, membaca 1 buku atau usai menonton film aku selalu membuat ulasan dan menciptakan ratifikasi personalku sendiri. Kebutuhan apresiasi ini sungguh normal layaknya kebutuhan parfum, ada yang menggangapnya serius, sehingga bagi mereka yang terbiasa mengekspos apa yang melintas di pikirannya akan merasa ada yang kurang ketika tidak melakukannya, seperti pergi berkencan tanpa menyemprotkan wewangian dan menimbulkan satu kekhawatiran yang mengendap jika seandainya sang kekasih terganggu dengan bau badanmu, dan menimbulkan ancaman laten bagi keberlangsunagn hubungan itu sendiri. Akan lain jadinya ketika kebutuhan parfum itu bukan kemutlakan bahkan malah menafikan bau badan yang menyengat karena (mulai) mengganggapnya terbiasa adalah one things. Pilihan terakhir itu mulai berlaku pada kondisiku sekarang ini, satu kondisi yang dengan sadarnya kusadari sebagai upaya untuk menghilangkan identitas yang berpretensi ke arah edgy, dan kebanggaan semu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, aku sudah tidak mau lagi mengedepankan identitas ini karena sudah cukup tirani alienasi yang mendera pikiranku, identitas subkultural yang berpretensi itu tidak jadi lebih penting ketika identitas politis menjadi hal yang lumrah. Aku bisa saja menjadi apapun yang aku suka, tanpa harus merasa adanya ekslusitifitas karena menjadi hal tersebut.


            Anggap saja aku memang menikmati atmosfer yang kujadikan alasan paling masuk akal di percakapan sebelumnya itu, aku memang menikmati apa yang bagi segelintir orang diasosiakan sebagai 'kemunduran' dan  sudah saatnya aku tidak lagi melihat sesuatu berdasar ratifikasi tertentu yang cenderung berpola justifikasi. Mungkin aku akan membiasakan menilai berdasar fungsi dan mencoba menjauhkan pretensi 'mutu' pada apa yang kusukai. Jadi makna 'bagus' dan 'tidak bagus' tereleminasi dengan 'suka' dan 'tidak suka'. Untungnya atmosfer yang kurasakan ini memang melegakan paru - paru. Kembali ke persoalan komentarku tentang tampilan Illuminer, apa yang aku ungkapkan adalah ide simultan yang melintas tiba - tiba di kepalaku, kadang aku suka membayangkan bagaimana mungkin aku mengaitkan sejumlah hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan materi yang kami bicarakan. Jurnal Kelapa Sawit?! Hingga kini kau tidak dapat mencegah seringaiku setiap kali melihat kopi zine tersebut, ini bukan soal menganggap remeh, tapi asosiasi terhadap benda itu sendiri. Dapat kujamin apa yang tertulis di Illuminer#1 akan mengundang decak kagum atau sekurang  - kurangnya simpati terhadap isi materinya, terlepas dari visual zine itu. Rhesa adalah seorang editor yang berbakat, tulisan - tulisannya cukup menarik dibaca dalam kondisi luangmu atau bahkan sekedar mengalihkan perhatian khatib shalat jum'at. Jika dia punya kesempatan mungkin dia berpotensi menajdi bagian media cetak versi nasional sekalipun. I tell you the Truth!. Ini link PDF Illuminer#1 yang bisa kalian unduh dan pada akhirnya kalian akan menilai atau mungkin meratifikasinya, menyebarkannya, menjadi pengusir bosan menemani waktu buang air besar di pagi hari sesuai dengan jargon media ini "Your new favorite time waster", atau membuat mediamu sendiri.

 

***

"Tidak ada yang bakal berkomentar seperti itu, kapan lagi kamu bakal mendapatkan opini semacam itu?" aku melontarkan apa yang baru saja melintas di kepalaku.

"Yeah, karena hanya segelintir orang berkualitas di kota ini, tidak perlu dua tangan, bahkan satu tangan pun tidak sampai." Rhesa mengacungkan tangan kirinya.

"Oh ya jadi minta review filmku?"

"Yah kopiin aja, siapa tahu aku butuh" sambil menyerahkan flash disc.

 

Percakapan kami diakhiri dengan dua mangkuk soto kikil, Rhesa berbuat baik malam itu dengan membayar 2 mangkuk sekaligus dan memberi beberapa kopi MP3 yang belum aku punya. Rhesa kadang bisa menjadi teman yang baik.

 

***


Posted at 03:52 am by saratdusta
Make a comment  

Wednesday, January 07, 2009
Breakfast For Resolution

Ini lah 'sarapan pagi' ku di awal pekan tahun 2009, serangkaian uji kesehatan dari urine, darah, x-ray, hingga penglihatan di sebuah rumah sakit swasta daerah Klandasan-Balikapapan, disusul sarapan pagi harfiah sebenaranya tepat pukul 8.45 sesuai penunjukan jam digital pada layar telepon selularku, sepotong ham sandwich dan 4 potongan pepaya manis berukuran sedang, lengkap dengan sepasang pisau-garpu berbalut tissue plus sepasang saus tomat dan sambal sachet yang terbungkus rapi dengan plastic wrapped up melingkupi piring tempat sandwich itu berada. Secangkir teh hangat mengepulkan asap hangat tersamar diletakkan oleh pramusaji di samping piring itu. Potongan pertama roti itu masuk ke dalam mulutku menandai berakhirnya puasa makan dan minum semenjak pukul 11 semalam,  .

 

"assalamualaikum, sayang, ini aku lagi medical check up di per*****,  semalam udah puasa dari jam 10-an,..."

 

seorang wanita paruh baya berkerudung hitam dengan tas tangan cokelat yang terbilang mewah mengambil duduk di seberang kursi ku, berada satu meja dengan raut muka yang sumringah sembari menempelkan piranti selular itu di kupingnya, potongan sandwich-ku sudah tidak beraturan dan tertinggal beberapa jumputan ketika aku menyadari wanita itu duduk, tak pelak aku menghentilan makanku, lembar formulir riwayat kesehatan yang teronggok bersama tas pinggang milikku kuraih, ada sesuatu yang menggantung di moment itu. Wanita itu mengingatkan ku tentang komitmen dan konsekuensi sebuah hubungan. Bukan tanpa sebab aku berpikir secepat itu, pikiran menggangu tentang kehilangan status relationship dengan seorang perempuan masih mengendap di pikiranku. Anggap aku terbelakang jika aku beranggapan wanita seumuran dia masih memiliki gairah kasih sayang yang bisa kutemui di wajah anak belia berumur belasan tahun, binar ekspresinya melebihi kadar guratan di dahinya. Siluet muka perempuan yang mengganggu pikiranku sepekan ini melintas bernegasi di wajah wanita itu, dapat kulihat keseragaman di antara keduanya. Raut cantik yang nyaris serupa, hanya terpisah puluhan tahun pengalaman menikmati deret antri kehidupan.

 

        "...nanti saya kabarin lagi ya sayang, mwuahh, mwuahh! Assalamualaikum.."

 

Bukan hal yang biasa bagiku mencuri dengar percakapan telepon orang lain, tapi berada berhadapan dengan orang lain di selasar sebuah RS yang dijadikan kantin untuk pasien yang melakukan medical check up mungkin akan mentolerir perilaku tersebut, suasana pagi yang hening, dan sirkulasi AC yang menyejukkan. Pikiranku kembali ke kali terakhir kulihat wajah perempuan itu, tampak memendam kekecewaan dan tekukan signifikan pada batas antara leher dan wajahnya. Kondisi terburuk  untuk mengingat saat - saat terakhir dengan seseorang yang kemudian menjadi orang yang paling tidak ingin ditemui olehmu sejagat raya ini. Suatu waktu di sekitar penghunjung tahun, di dalam bilik rumah sewaan sederhana dan setelah kegiatan bercumbu yang dianggap di luar batas berakhir. Pagi ini pula aku memutuskan untuk melupakan persoalan minta maaf, dan usaha yang akan kukerjakan untuk meraih kepercayaan perempuan itu kembali--jika seandainya pagi ini berlalu--, kesadaran yang muncul serta merta tentang tidak adanya titik temu yang bisa mempertemukan visi kami tentang insting dan nafsu membawaku pada konsesi itu, kehadiran wanita itu seolah memberi sinyal peringatan tentang stigma pentingnya kepercayaan untuk menghindari batas dan konsekuensi untuk mencintai tanpa pamrih di masyarakat normatif masa kini. Suatu pra syarat yang menutupi kebutuhan rekreasi manusia dalam zona gender, ketika tatanan norma dan keluhuran takhayul mengusir kesenangan yang sebenarnya diharapkan dan dibutuhkan olehnya, dan walau sebenarnya sudah terjadi sekalipun, pra syarat itu mengambil alih dan bahkan mengeliminasi ekstasi yang dimunculkan dari aktifitas rekreasi tersebut menjadi satu kata : dosa. Ada batas yang samar di antara konflik kami, ketidaksamaan kata sepakat yang cuma berujung pada dalih kebenaran masing-masing, dan kesemuanya berakhir dengan ketiadaan satu kata sepakat sekalipun tentang inti permasalahan sebenarnya. Mengherankan memang pesona racun yang teroles di pucuk panah cupid itu bisa dikalahkan dengan keluhuran norma, dalam perspektif ku, kami sedang bersandiwara memperebutkan menjadi pecundang yang paling hebat. Bisakah aku mengelaborasi makna haramnya mendekati zina dengan ide anti kepemilikan dan liberalitas seksual pra nikah?.

 

Bias dari sosok kehadiran wanita itu terus berlanjut, imajinasiku menembus batasan dinding RS, memunculkan visualisasi peristiwa kemarin lalu, sebuah TV 21"  dan VCD player yang kulihat di malam tahun baru lalu dengan tampilan Gombloh yang berduet dengan Titi Qadarsih di Aneka Ria Safari. Di depan TV seorang pria mabuk dengan kumis melintang tak terawat dan badan cekingnya menggengam microphone, menyanyikan lirik lagu karaoke yang berwarna merah di layar TV, lebih tepatnya ia berteriak ketimbang menyanyi, dan sesekali meneriakkan 'hal-hal' diluar konteks. Itu tidak membuatku tertawa sedikitpun, aku tahu rasanya hilang kesadaran dan berprilaku di luar kesadaran, tapi tawaku muncul ketika melihat Titi Qadarsih menari dengan sangat memilukan di klip itu, rompi jeans dipadu mini skirt khas 80-an, topi bundar lebar, dan bernyanyi 'la..la..la' di awal lagu, dengan mudahnya ku asosiasikan ia dengan badut sebenarnya yang sedang menderita alergi kulit tingkat akut hingga harus menggelinjang secara berlebihan seperti itu.

 

Apel pertama kali, aku malu-malu,

Apel kedua kali aku pasang strategi

Kupegang tanganmu sambil ku bercerita

Uh..uh  melambung anganku

Apel di lain hari ku makin berani

Apel di malam itu ku coba merayu

Andaikan dirimu memperbolehkan aku

Uh..uh ku cium pipimu

Engkau memandangku dan seakan tak percaya oh..

Kau tertawa lirih berdiri sambil berkata:

 

Aku sudah gila..huu

                                                  -Apel, Gombloh.

 

Ah, tawaku kemudian tidak menjadi sesuatu yang memuaskan, gombloh tua itu terlalu sentimental dengan lirik corny-nya lagipula jika sekedar mencium itu sudah gila maka apa kata yang tepat di luar kata gila ketika tangan si pria tidak berada di tempat yang seharusnya? , ah! sudah cukup Gombloh membuat lirik nasionalis yang menyayat kuping tentang kemulian sebuah bendera dan kali ini entah kenapa liriknya sedikit menggangu buat saya secara personal, lirik itu nyata sebuah ketidaksengajaan diciptakan dan aku juga berada di tempat ini secara tidak sengaja, seharusnya aku tidak perlu sensitif ketika lagu itu usai, aku tidak perlu menatap nanar sejenak ke atas mencari sesuatu yang dianggap pengatur segala peristiwa, dan aku tidak perlu mencari potongan video tersebut di Youtube. Yah memang harus ada yang dituntaskan, setidaknya setelah tulisan ini berakhir semoga ada yang musnah dari memoriku. Semoga!

 

***

Aku menatap perempuan yang berbaring di sebelah kananku, jarak pandang tanpa bantuan lensa masih mengakomodir pandangan buramku, aroma mint yang kukenal sebagai rasa sebuah permen menyeruak, tidak kusadari sebelumnya, bibirnya mengunyah sesuatu.

"Lo makan permen ya?" usutku.

"Iyah, happydent. " perempuan itu menimpali.

"Masih ada? bagi dong!. " tanganku menadah kearah mukanya.

"Ini tinggal satu-satunya.. " ia menatapku sejenak.

"Bagi ya? " tubuhku lalu beringsut mengahadap ke arahnya,

....hening

"Dari tadi aku kebanyakan ngomong ya? " jarak pandangku semakin jelas.

"ho..oh" sambil mengangguk lemah.

 lalu ia membiarkan aku mengambil permen itu sendiri.

***


Posted at 11:06 pm by saratdusta
Make a comment  



   



<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

Thus Spoke Saratdusta
'JD Salinger

"Don't ever tell anybody anything.
If you do, you start missing everybody."
-The Catcher In The Rye, J.D salinger

Personal Rants: Music Junks: Those Who Loves to Draw:


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed