Header Blog

Saturday, October 22, 2011
The Longest Distance and time travelling.



Jarak terjauh di dunia bukan sejauh mana aku berdiri di hadapanmu dan tidak mengerti mencintaimu, melainkan bagaimana aku mencintaimu dengan sepenuhnya dan tidak dapat bersamamu. Untuk setiap detail yang kutanyakan dan keberitahukan kepadamu adalah vaksin atas ketakutan bahwa perumpaan tersebut akan berakhir menjadi sebuah kenyataan, oleh karena aku ingin merasakan kondisi menjadi bagian dari hidupmu sehari - hari, merasakan bagaimana aku mengetahui makanan pertama yang kamu makan di pagi hari, membayangkan wujudnya dan membauinya di alam pikiranku, atau di lain waktu mengetahui kegembiraan apa yang kamu peroleh ketika berceloteh ria dengan kerabat dan teman temanmu sehingga aku ikut tertawa ketika kamu tertawa dan memahami makna kejanakaannya, dan di setiap akhir harimu, ketika letih dan penat menggantung membebani kelopak matamu, aku ingin menghibur dan meredakan kepenatan tersebut, hingga kamu benar benar merapatkan kelopak matamu dan aku takjub bagaimana kamu tidur dengan tenang dengan posisi favoritmu. Merasakan menjadi eksis dalam kehidupan harianmu, merasakan berada di sampingmu pada saat saat terbaik dan terburukmu, serupa menjadi pasangan hidupmu yang akan mendapati garis keras di rahangmu sebagai pandangan pertama yang aku lihat kali pertama aku membuka mata. Oleh karenanya aku benar benar menikmati kesempatan bersamamu walau hanya dalam hitungan hari atau jam, dan seperti biasanya aku merasa di akhir kesempatan tersebut aku akan kehilangan waktu bersamamu lagi. Dan aku selalu menitikkan air mata karenanya.

Kita adalah hewan hewan yang telah didomestifikasi oleh kebutuhan yang terasa asing oleh insting kehewanan kita, kita menjadi lupa atas teritori dan sikap purba kita, sehingga kita menemukan makna surgawi di channel channel tv yang membahas kehidupan kelompok primitif, kita iri atas tanah yang mereka pijak dan air yang mereka minum, kita merindukan bumi yang menjadi seorang ibu untuk kehewanan kita. Oleh karenanya kebutuhan domestifikasi memungkinkan kita untuk berada pada jarak fisik yang jauh membentang, dan kita belajar untuk menjadi sebuah sosok yang bernama manusia.

Iblis akan tertawa lebar jika kita membicarakan soal masa depan, merencanakan sesuatu dengan probabilitas yang nilainya masih nihil dan hanya karena optimismelah visi menjadi sebuah kepastian yang tertunda, sayangnya semua motivasi yang disampaikan oleh pria berjas itu bahkan jauh lebih menggelikan ketimbang ditertawakan oleh Sang Iblis, dan tentunya aku memilih untuk menjalani 5 10 tahun lagi waktuku baru aku akan membicarakan masa depan sambil menjalaninya.

Hari sudah malam, separuh bumi sudah merasakan takluknya matahari atas kegelapan, dan aku ingin pulang kembali ke sarang demi mendapatimu dan mengetahui keberadaanmu, dan kita bisa berbagi cerita tentang hari yang telah kita taklukan, dan aku dapat tidur nyenyak sembari kamu memelukku.

Seperti yang kamu tahu, di pusat realm Desire dalam tubuhku ada sebidang tanah yang luas untukmu, selalu ada, dan kuijinkan kamu membangun sebuah Mall di dalamnya, ketimbang berenang mengitarinya, kamu dan hanya kamu satu satunya yang tidak pernah tergantikan, langit utaraku, Adinda Garini Wulandari. Aurora.

Posted at 06:10 am by saratdusta
Make a comment  

Monday, October 17, 2011
Have you ever count how much hair you have on your wrist, dear?

"Aku tak suka mukamu ditekuk cemberut,
Aku tak suka, kamu tak suka aku cemberut..."
Cinta itu sengit, Indie Art Wedding




Have you ever count how many times you have failed and fallen into a shithole? Don't you realize some delicate people does the same, even their story was to up a bit, over-dramatically perhaps, and covered the truth stories about how they stand above the ground with no fear and full of confidences. My physic teacher once a time was told me Thomas Alfa Edison has thousands trial and error before he invented the bulb, a tiny bulb that will lighten up your face while we talked in private, and I can directly see how your face react upon my investigated questions, some question that turned your mimic into some kind of deep breath taking situation. This is not about bulb and the inventor, just like Mario Teguh spoke to his disciples about how he understand the formula of life to being succeed, it's more about how we can get over this situation as a pair one. Not also delicate people, some imbecile like Hitler has felt into same shithole, so did I, that currently burden in this massive grief and I know you barely knew it.

I delivered some sweets days ago, pinky stuffs you fully considered as cheap one, both of us know it's not the point, I delivered something you wish off, and I granted it, and I hope this is the point. Even you still amaze with what I have just conducted, some fatigue and distance I have to passed pays equal with the mimic changing upon your face while I delivered it to your hairy arm. The happiest curve shaped on your lips and you blushed a bit, furthermore I am truly fucking happy and you still owe me an explanation about what are you feeling at that moment. A feeling you described as " I can't explain what I'm feeling now", yes this the way I proved what I have said. I do care of you.

On the hectic evening you decided to a "bitch", I offered you an advice to facing the ugly truth of relationship, but you chose to be "gak punya perasaan" kind of girl, so be it yet stop being so moralist who defines good and bad as simply one. Imagine you on a life boat, a boat designed for hold one person capability only, then you meet the guy floating around the ocean hoping for mercy to be on board, logically you know the capability of your boat, either you let the guy be on board and no one of you can survive at all until the coast, or you sailing forward to save one life. It's sound mean and selfish but when you choose to save one life only, I think your decision beyond good and bad standard, because you save your life, Your own priceless life. So don't ruin your mood because somebody's comments.

I find an Oasis while we conduct the conversation, discovering your emotional feeling is a brand new way, way that we will walk together on our own path, understanding to each other. Sorry, if my stubborn headed dance me in into your personal life and escalate our relation into private matters, since you keep classified from the beginning, I challenge myself to dealt with it. Causal-effect is always be a potential motive for every kind of behavior and act at our daily life, how refreshing dear, we find a same as fucking day as yesterday and we bored to death getting through to end at our comfort bed. Work as both of us know is malignant one, killing our bestiality as primate known as human, our emotion became numb, our story of life became artificial, our relation became so pretentious , something that I could not fit in this Pandora box.

I had my pilgrim already, that's the time when I found Death in yours, thus I declare myself as your submission whom never refuse your command or order, two things that I've neglected so far from this manic institution, institution that alienated me from being as Homo Sapiens on his paradise, Work. I let you doing something on my body, and vice versa. For every single pain you have caused i do enjoy it, even you always get shocked with what i offered, sharp point, heat, and the power on your palm always suit me well because i am your pet and a living toys. I adore your scar, because of its shape and imagining the pain you have earned from the wound, it's always thrilled me enough, the living proof of gore. Luckily i am the one who notice it and the one who like to touch it with my finger and my lips. Yet things that i have done to your skin, your nails, your toes, your tights, and your legs, i do it with my conciousness and my insanity. Yes I am MAD.

I already prepare a massive wipe to be a fucking better person. You can have my words. So i still want to see a huge smile and hysterically laugh from you as far as I know you, you know how to dial the mechanic when your car breakdown and you have to move forward on your freeway. Because we live with no limits, live up the Dream, cheer up always. Warm hugs, bite and kisses for you Rinda Tri Lestari.





" I'll paraphrase Thoreau here, rather than love, than money, than faith, than fame, than fairness, give me truth" -Alex Supertramp.


Posted at 08:58 pm by saratdusta
Make a comment  

Wednesday, February 16, 2011
It's a dark and stormy nightmare, so just don't let me dry



So sentimental, Not sentimental no!
Romantic, not discussing yet
Darling I'm down and lonely When with the fortunate only...
-Phoenix, Lisztomania

Tidak bergeming ketakutanku dari ragaku, menggerogoti seperti semut atas manisnya karbohidrat, menghancurkan isi perutku, mengelupas dan menampakkan sisi setengah kosong dalam kepingan jiwaku karena sebuah obituari akan kuil persembahan yang telah runtuh seketika. Aku menggapai jemarimu seperti Tantalus menggapai buah - buahan di sungai Tar - Tar, dan aku memohon dengan segala kerendahan hati yang pernah kuberikan, yang pernah kukabarkan bahwa aku mencintaimu dari semua cinta yang pernah tercatat atas cinta nabi rasul kepada Tuhannya, cinta messiah kepada ajaran ketuhanan, cinta bumi kepada matahari untuk tetap mengorbit pada tahun masehi, cinta panas pada api yang melekat bersamaan, cinta Adam kepada Lilith dan bukan Eve, dan cinta Tuhan itu sendiri atas kuasa yang serba maha diatas logika Maha. Aku memohon untuk tidak dipilih karena aku kelengkapan yang akan menyempurnakan, aku memohon untuk janji yang pernah kita ucapkan tentang mimpi dan usaha yang akan kita perjuangkan, aku memohon untuk kelemahan dan ketidaksempurnaan mental yang kupunya dan karena sentuhanmu kudapatkan keibuan yang menenangkan, yang hingga detik rotasi bumi kali ini masih kudapati ketakjuban yang sama ketika aku melihat idiom "what kind of creature are you" masih melekat di pribadimu, yang menaklukan aku selayaknya Venus meluluhkan Paris.

Tarik aku keluar dari Tar - tar dan jauhkan murka Pluto dan penghuni Hades hanya karena kau mengistimewakan personalitasku, karena kau mewujud dan mengisi dahaga lapar atas siksaan yang mendera. Karena kau memang melakukannya untukku, sama seperti sebelum masa, di antara masa itu sendiri, dan sesudah masa itu sendiri.Dan bahwasanya tiada kesia-siaan Sisifus yang akan terjadi di tengah-tengah dunia kegilaan kita.

Seperti Morpheus mengunjungi neraka dengan keberanian yang setara kekuasaan Lucifer, Seperti Morpheus yang meminta jiwa Nada dengan taruhan Kerajaan Mimpi, seperti kekalahan mutlak Choronzon atas harapan yang dilontarkan Morpheus. Dan seperti aku menginginkanmu dengan sebenar - benarnya, Laylaku.

Posted at 07:26 pm by saratdusta
Make a comment  

Monkey Mask Show

Ada satu hal yang begitu melekat di kepalaku bahwasanya aktris, aktor dan dunia hiburan yang mereka geluti tidak benar - benar memberikan secara utuh diri mereka untuk kesenangan yang kita bayar, tidak sedikitpun, karena mereka memberikan sebuah imaji yang kita inginkan, mereka mengisi relung - relung fiktif yang kita inginkan di setiap waktu senggang kita, tidak akan letih mereka memenuhi kebutuhan kita yang satu ini karena kita tidak pernah letih menginginkannya. Jika topeng monyet bisa dijadikan sebagai kado ulang tahun maka tidak serta merta kita memberikan sang monyet kepada mereka untuk membuat mereka puas, pertunjukan dan rangkaian kesatuan antara aksi sang monyet dan majikannya lah yang dapat benar - benar kita hadiahkan, hal yang tidak berbasis di atas kertas, hal yang tidak menyangkut soal ukuran panjang ekor sang monyet dan seberapa banyak jumlah codet atau bekas luka yang menempel di tubuh primata itu. Kita sepakat menyebut hal yang tidak terukur secara kuantitaif ini sebagai sebuah 'pertunjukan' dan kita sadar kita sedang mengidap sindrom 'mesin pop-corn', kita menikmati kunyahan biji jagung berubah bentuk itu kita untuk menyelaraskan bahwa diri kita memang sedang menikmati sebuah pertunjukan, sebuah pertunjukan yang lain yang sedang kita lakukan dimana kita aktif mengunyah 'pop-corn' dan memahami apa yang kita inginkan agar kita dianggap sebagai masyarakat yang saling memperhatikan budaya. Celakanya sebagian yang takut dirinya dirugikan oleh aktifitas semacam ini menyebut pop-corn dan pertunjukan itu sebagai candu.

"Tidak, Aku tidak ingin...", Kalimat negatif adalah sebuah pertanda bahwa kita masih hidup di dalam dunia yang biner, dimana kita bisa menjadi individu yang mau mencari beragam cara untuk menjadi terpuaskan dan dipuaskan. Pengunjung hiburan malam dan bioskop punya hal yang serupa dalam memanjakan diri mereka, mereka tahu bahwa tidak perlu menjadi individu yang jujur untuk menikmati apa yang mereka pilih untuk mengisi ruang kosong dalam diri mereka, cukup berpura-pura tertawa lebih lantang dari biasanya ketimbang saat menonton di layar 14', atau berkomunikasi aktif lebih dari pergaulan sehari-hari sekalipun agar dikenal supel dan asyik, dan satu hal lagi yang serupa, mereka semua percaya bahwa diri mereka bukan pusat dari hiburan yang mereka butuhkan. Botol kosong tidak dapat mengisi kekosongan diri mereka sendiri walau kita begitu menginginkan memenuhi rongga udara di dalamnya dengan air segar. Kata "tidak" juga kadang bisa diterima jika si aktris dan aktor tidak berniat secara total untuk membagi pertunjukan mereka, maka sebagian dari kita akan mendapati ulasan karya seni yang buruk, akting yang mengelikan, pramuria yang dingin dan enggan dijamah anggota badannya, dan arsitektur yang buruk dan mengancam nyawa hidup orang banyak. Kekecewaan menjadi hal lumrah jika kamu mengindap sindrom 'mesin pop-corn', sebanding dengan kepuasaan ragawi dan rohani yang kamu terjemahkan lewat organ seksual, drama yang mengharukan, tragedi dan lelucon yang menguras kantung tawa, dan seberapa sering kamu temui biji jagung yang bantet dan terasa pahit. Anehnya kamu percaya bahwa akan ada lagi pop-corn dan pertunjukan lain yang masih menunggumu, dan kamu akan mengantri kembali.

Semakin besar keinginan publik terhadap kehendak penghiburan menjadikan mereka pasif akan impuls ekspresi diri, mereka lupa untuk menjadi individu yang menarik atas pola pikir dan substansi dasar pilihan mereka sendiri, terkadang kita harus menemukan perbedaan - perbedaan yang berujung seragam hanya karena ujung dari asal mula perbedaan ini berasal dari kultur dan mode yang sama. Akuilah kita cuma monyet - monyet dengan topeng yang beragam dan seorang majikan mengendalikan kita untuk menari, menarik gerobak, dan mengenakan gaun wanita. Kita hanya topeng monyet di perempatan jalan, dan salah satu dari kepingan jiwaku ingin membunuh sang majikan karena telah memperkerjakan primata belum cukup umur demi sesuap nasi, terkadang kita harus marah, dan biarlah amarah terkubur bersama mimpiku untuk menjadi seorang Darth.

Posted at 05:12 pm by saratdusta
Make a comment  

Saturday, July 31, 2010
Tuhan tidak pernah menghakimiku, mahluknya yang pantas melakukan.


Wanita berjilbab berkacamata itu masih menatap lambang Vegvisir di lengan atas kiriku yang terekspos karena aku memakai kaos lengan buntung, wajahnya tampak manis dengan kombinasi jilbab berwarna merah muda dan frame kacamatanya, ia selalu tersenyum manis dengan segala kelebihannya yang dapat ia tunjukkan kepada siapapun tanpa tendensi apapun, dan ia masih tertawa kecil ketika aku tetap menyanggah bahwa tattoo di lengan kiriku ini bukan permanen. Lalu ia memberanikan diri menyentuh alur yang tertoreh di kulitku itu, dapat kurasakan kulit telunjuknya menyusuri sudut - sudut kompas bangsa skandinavian itu, aku tertegun sejenak merasakan sentuhannya.
Tiba - tiba dengan lirih ia berucap " Kafir...".




==================================================================================================


Kemajuan jaman dan kemunduran iman.
Ah menarik, sejumlah manusia memang telah menyadari bahwa kumpulan sebab-akibat bisa terjadi dengan hukum kebutuhan dan komoditas, ada hal yang masih melekat di kepalaku : setiap penjelasan logis ada di balik sejumlah kejadian.

Lalu agama itu apa?
Semacam penemuan canggih manusia purba yang sudah tidak menemukan eksotisme dari kumpulan batu-batu raksasa, pengantar menuju pembatasan ide.

Seberapa harus kita beragama?
Pemahaman agama berkait dengan substansi bawah sadar kita yang masih dikendalikan rasa takut. Pembebasan unsur-unsur semacam neraka, dunia arwah, atau hidup sesudah mati yang kesemuanya disadari adalah proses pembelajaran yang diterima searah sejak kecil dapat mengeliminasi keharusan beragama. Jangan kaitkan Bid'ah dalam kondisi seperti ini. Saya menyebutnya 'living in the edge' atau eksplorasi logis dengan sedikit nihilisme.

Apakah Yahudi itu sama dengan Budha?
Geografis, akar budaya, komoditi barang dagangan sempat memegang peranan di masa manusia mempelajari bumi sebagai lumbung besar harta karun yang masih lebih dari cukup untuk digali (bahkan hingga kini, dan semoga masih tersisa untuk puluhan dekade mendatang). Perbedaan ketiga hal tersebut jelas mempengaruhi interaksi masyarakat di 'satu' daerah, dan itu berkaitan pula dengan kemampuan apresiasi mereka terhadap 'dunia' lain yang diidentikan dengan tak terbaca, kabur diluar nalar, tidak pasti dan berkemungkinan 'yang pertama' -yang maha kuasa- ada sebelum bumi itu sendiri. Yang sama persis dari ciri setiap agama adalah satu pandangan yang sama tentang 'yang kuasa' mengingat insting dasar manusia adalah menguasai, dan manusia berpikir tentang siapa penguasa sejatinya adalah pertanyaan maha penting untuk manusia.

Agama: Untung dan Rugi
Jika sempat memperbincangkan ini, maka hasilnya amat sangat relatif karena mengingatkan saya dengan untung-rugi membangun kerajaan bisnis. Aku tidak terlalu melihat agama sebagai untung/rugi, tapi seperti tanda lahir di tubuh.

Agama adalah Aturan
Agama mengatur manusia, manusia yang teratur hidup dalam ketenangan.tapi tunggu, aturan itu bahkan sudah ada sejak manusia pertama di bumi, pembagian tugas di kelompok komunal, pengaturan sisitem lahan, bla..bla.. Lalu apa aturan itu adalah warisan? dan jika menjadi teratur adalah syarat menjadi individu yang baik bukankah itu meneruskan peran manusia sesuai kemampuannya, dan ia akan hidup damai dan terkendali?

Posted at 07:43 am by saratdusta
Make a comment  

Wednesday, June 16, 2010
Freud berkata, " Amoral tidak lebih buruk dari moralis!"




Selamat menikmati kehidupan penuh prasangka dan keingintahuan yang dangkal tentang aktifitas seksual orang lain. Sudah selayaknya kita bertanggung jawab atas organ kelamin kita masing - masing dan bukannya erangan yang dihasilkan mereka.

Posted at 02:38 am by saratdusta
Make a comment  

Sunday, May 02, 2010
Tidakkah aku benar? Atau kebenaran itu telah meniadakan aku yang pernah ada. Lila musnah!

Ada sebuah formula yang dipercaya dengan begitu mudahnya, selayaknya aksioma yaitu "Yang baik pasti akan memenangkan segalanya di akhir cerita, dan yang jahat akan menerima ganjaran yang setimpal untuk prilaku buruknya", rumusan ide yang hingga kini masih melekat di perilaku sehari - hari kita sebagai refleksi dari pengalaman dan pemahaman akan tujuan hidup. Penerapan formula ini banyak dituangkan dalam karya sastra, atau aktifitas kreasi yang menyampaikan isi sastra tersebut lewat gerak, suara ataupun gabungan keduanya seperti halnya pada sebuah film atau teater. Di kisah tragedi hal - hal semacam itu bisa sangat menghibur, dalam artian perenungan manusia terhadap hukum sebab - akibat memproduksi buah pemikiran yang bersifat edukasi menyangkut nilai - nilai moralitas. Jadi hiburan di sini mencakup diantaranya pembuktian akhir dari formula tersebut -memetakan urutan kejadian sebagai sebab dan membuat cerita akhir sebagai akibat yang berpretensi pada formula tersebut-, selain itu kepuasan itu juga mencakup kecendrungan berperspektif sebagai hakim atas norma tertentu (menjustifikasi nilai baik - buruk adalah fetish yang belum hilang dari peradaban manusia) sehingga muncul halusinasi injeksi imunitas terhadap prilaku tertentu yang dianggap membawa ke arah ganjaran buruk, ataupun sugesti untuk dapat berprilaku lurus karena potensi menghibur dari cerita - cerita tentang konflik dualitas ini memberi amaran atau nilai edukasi yang immortal tentang contoh - contoh prilaku yang menjamin keselamatan dan kebahagiaan. Hiburan pun tidak lagi menyangkut kemampuannya membuat seseorang tergelak tawa atau merinding ketakutan dan menjerit seperti halnya horor, tapi bisa juga tingkat kesengsaran atau kegetiran yang diterima sang tokoh antagonis dalam karya tersebut.

Dalam tingkat mediasi yang lebih masif yang dimudahkan oleh fasilitas, atau kebutuhan tingkat rating seperti sinema. Kisah - kisah semacam ini diproduksi secara berlebihan dan menjadi target utama, tidak jarang terjadi pengikisan ide - ide yang natural. Makna - makna ekslusitifitas manusia untuk berkehendak cenderung ditabukan, mengingat adanya paranoid akan liarnya manusia untuk berkehendak. Walaupun sebenarnya kebutuhan akan urusan hiburan semacam ini dibiakkan sesuai kehendak dari penyedia hiburan itu sendiri, sayangnya hal ini tidak diangap sebagai sesuatu yang "liar", masyarakat yang tergabung ke dalam tipe penonton merasa sajian yang disuguhkan oleh masyarakat yang tergabung ke dalam tipe pembuat tontonan adalah hal yang lumrah. Kebutuhan tontonan tidak lagi hal yang tersier seiring dengan kompleksnya akses untuk memanjakan diri. Lewat sebuah remote control atau secarik tiket bioskop masyarakat penonton seolah diberi pilihan untuk memilih apa yang disebut sebagai hiburan. Satu bangsa di bawah pengaruh justifikasi nilai baik - buruk dapat terjadi ketika masyarakat penonton menyikapi sajian tontonan menjadi sebuah aksioma, yang tidak termentahkan, jelas saja edukasi subliminal ini mau tak mau dianggap sebagai hal lumrah terlepas dari apakah masyarakat penonton membutuhkan hiburan semacam ini atau tidak, bukankah kepentingan yang berasal dari masyarakat pembuat tontonan tidak selalu sesuai dengan sasaran produksi mereka. Siapa yang membutuhkan edukasi menjadi seorang yang sabar dan jujur saat di satu sisi terjadi pencurian besar - besaran terhadap hasil - hasil bumi, pengikisan makna interaksi manusia yang direduksi ke level nilai tukar, pembohongan elit, identitas yang hilang akibat pelacuran besar - besaran ke institusi kerja, kepentingan represitifitas, atau keambiguan makna keadilan?.

Kelanjutan dari kepuasan akan hiburan semacam ini tidak hanya berhenti di relasi penonton dan tontonan, ada adiksi akan standar - standar tertentu yang harus dipenuhi. Jika tujuan dari setiap edukasi adalah membuat seseorang mengerti dan paham, maka tercapailah tujuan dari pemberi edukasi tersebut. Sama halnya dengan tontonan hiburan ini, masyarakat penonton dibuat menerima sudut pandang si pembuat tontonan, terlepas dari kebebasan individual yang dimiliki penonton untuk menerimanya, tapi struktur masyarakat sendiri sudah terpolusi dengan pekatnya jargon - jargon nilai - nilai moralitas titipan. Belum lagi deviasi kebebasan memilih sudah tidak bermakna bebas dalam arti sebenarnya, sebuah kebebasan dapat berarti memilih kripik kentang diantara 100 merk kripik kentang, tanpa ada kemungkinan untuk memilih kripik pisang. Tidak dapat dipungkiri masyarakat penonton melihat peranan baik - buruk sesuai penilaian kreator terhadap baik - buruk itu sendiri. Yang hilang dari tontonan ini adalah ekslusitifitas individual yang diadaptasi untuk alur cerita, seorang yang keji selalu diasumsikan dengan standar keburukan tertentu yang cenderung artifisial, dan cenderung tidak membumi. Sehingga prasangka buruk tidak dapat lagi dianggap sebagai anggapan personal, tapi menjadi pandangan publik. Yah, sisi akhir dari adiksi ini bisa berujung pada penyeragaman pola pikir tentang satu hal, tidak ada lagi independensi untuk berkehendak, walau ada celah untuk melakukan itu, tapi masyarakat umum mana yang tidak menolak seorang pembunuh layak untuk dihukum mati?

Hal lain yang membuat miris adalah keterlenaan masyarakat penonton yang berkutat di persoalan keseragaman dan stabilitas ketentraman yang dipenuhi oleh kepentingan elit atas. Ketika masyarakat penonton sudah mampu mengekspresikan prilaku mereka dengan standar nilai - nilai positif, masyarakat cenderung berpola pikir instan terhadap lingkungan dan pergaulan mereka, munculnya prasangka buruk dan penghakiman publik yang dapat dikatakan "terlalu mencampuri urusan personal" menjadi hal yang wajar di masyarakat. Seiring kebangkitan kesadaran dalam memilih dan memperjuangkan hak asasi tidak serta merta menjadikan ekslusitifitas individual menjadi primer, bukan hal yang klise pelanggaran hak asasi semacam pemberangusan idealisasi dan opsi bisa dinomorduakan ketika pelecehan dan perbuatan tidak menyenangkan bisa mengambil alih persoalan sebenarnya, yakinlah tidak ada hukum yang menjamin keberlangsungan individual menjadi mutlak seutuhnya kecuali ketiadaan keadilan itu sendiri. Tidakkah kita telah menjadi rela untuk patuh pada nilai - nilai positif yang diwariskan oleh masyarakat tersebut?, dan kita membusuk sebagai zombi dengan semangat membangkang yang kentara dan menghanguskan

Posted at 07:15 am by saratdusta
Make a comment  

Saturday, April 17, 2010
Brief lives with high cost living


Death define life

Destiny define freedom

Destruction define peace

Despair define hope

Desire define hatred

Dream define reality

And You define me





Posted at 11:56 pm by saratdusta
Make a comment  

Friday, March 26, 2010
Mabuk membawa kita pada puncak ketidaksadaran yang surgawi, oleh karenya Tuhan bisa mengunjungi kita dalam kondisi sesuci itu

Beberapa minggu lalu aku lebih sering menghabiskan malamku dengan sebotol Mansion House ukuran jumbo bersama temen kerjaku. Entah kenapa ia sering berkunjung ke kost-ku hanya untuk minta ditemani minum, dari segi kebebasan ruang gerak kost-ku memang memudahkan kami untuk melakukan apa pun, induk semang tidak tinggal satu rumah, dan gang tempat aku tinggal juga tergolong sepi jika lewat jam 9 ke atas, tapi jika aktifitas itu terus dilakukan di setiap malam aku agak bertanya-tanya mengingat kami sama-sama harus bangun subuh untuk berangkat kerja. Aku tahu alasannya setelah hari kedua ia bertandang, ia bercerita soal adiknya yang hamil di luar nikah, jadi kupikir masalah tersebut yang menjadi beban pikiran temanku itu, kita semua tahu alkohol adalah opsi yang sering diambil penikmat alkohol untuk melebur sejenak kejenuhan beban pikiran akibat stress yang melanda, alkohol membawa si peminum pada fase transenden yang mengkondisikan peminum pada ketidaksadaran yang (sebagian besar) bersifat represif akibat pembebasan peran otak dalam menkontrol jalur-jalur pemikiran sadar menuju suatu rekreasi pikiran, sebagian orang menyebutnya 'cokelat hangat' pengantar tidur. Dan kita semua tahu beban tersebut akan datang kembali setelah pengaruh alkohol reda, makar pengambilalihan pikiran yang disokong oleh C2H5OH ini kembali ditundukkan oleh alam sadar begitu fungsi hati mencapai hasil maksimalnya.

Di lain waktu Jali memberitahuku soal penyitaan dan denda yang harus dibayar Mirwan teman kami atas kepemilikan miras yang ada di warungnya mengingat gencarnya pemberlakuan perda penertiban miras, Jali mengeluhkan bagaimana pola razia dan indikasi pungutan liar yang dilakukan oknum aparat terhadap Mirwan, mereka seperti memberi marka di warung tempat kami berkumpul itu, dan sekali waktu mereka bisa datang mengunjungi warung tersebut dengan atau tanpa surat izin razia (karena kami tidak pernah tahu bagaimana birokrasi razia), menyita dan memberlakukan denda atas ketiadaan izin menjual miras, di depan hukum warga sipil seolah tidak punya arti apa-apa, mereka bebas diatur dan dikendalikan atas wewenang dan aturan tertentu, terlebih bagi para warga sipil yang terindikasi atau terbukti melanggar pidana/perdata. Khusus untuk miras memang ada aturan yang ditetapkan tentang distribusi dan penjualannya, dan kita semua tahu apa itu pub, club, diskotik, cafe yang secara legal bisa menjual dan menyajikan miras dengan mengantongi izin. Timbal balik dari izin tersebut si pemberi izin atas nama negara mendapatkan rupiah tertentu untuk rentang waktu tertentu pula, mengingat izin menjual miras memiliki batas waktunya, dan perlu diperbaharui jika izinnya sudah habis. Negara menggolongkan dana yang didapat dari aktifitas pemberian izin ini adalah sumber pendapatan daerah, belum lagi pajak yang dibebankan ke konsumen atas konsumsinya terhadap barang haram tersebut, dan pajak 10% berupa pajak hiburan yang lagi-lagi dibebankan kepada konsumen jika kita meminumnya di tempat-tempat yang mengantongi izin tersebut.

Di mata hukum miras adalah barang haram yang dikendalikan peredarannya, tapi mari menggarisbawahi Barang Haram tersebut, barang haram ini menyumbang nominal yang tidak sedikit untuk negara dan perangkat hukumnya, termasuk di dalamnya para penegak hukum itu sendiri. Jika saja Mirwan harus membayar ratusan ribu atas denda setiap kali ditemukan barang haram tersebut pada saat razia dan soal biaya mengurus izin yang diberitahukan kepada Mirwan untuk membuatnya syah sebagai penjual barang haram, maka kita berbicara soal sirkulasi dana yang tidak sedikit. Di kotaku berasal saja tidak kurang dari 5 klub besar dengan segementasi middle up, dan puluhan karaoke, diskotik yang segmennya menengah ke bawah, walau pada akhirnya nominal yang dikelurakan seseorang untuk menikmati barang haram di kedua tempat tersebut nyaris sama. Jelas penjualan dan distribusi miras tidak pernah sepi, ada demand yang tersedia di pasar dan ada pula produksi yang memenuhi demand tersebut, karena kutahu ada diskotik yang mampu bertahan hingga detik ini sejak aku masih belum bisa membaca, dan masih ada warung yang secara ilegal masih menjual miras dari dulu hingga kini bahkan empunya sudah berpeci putih dengan sapaan barunya pula. Barang haram satu ini tampak bertahan dari masa ke masa, walau labanya tidak sebesar narkoba, penjualan miras berjalan sebagaimana masyarakat membutuhkan beras. Apapun selama memenuhi logika pasar tidak harus terhambat oleh aturan-aturan yang mengekang, bahkan aturan dapat menyokong logika pasar tersebut. Aku memaparkan hal tersebut secara general kepada Jali, dan ia yang kadang dipenuhi oleh sikap-sikap resistansi kembali mengeluhkan bagaimana aktifitas transendensi ia dan kawan-kawanku agak terhambat akibat aksi razia tersebut, ia memikirkan tentang aksi-aksi balasan dan ia juga mengusulkan ide kocak soal membantu membuat bunker penyimpanan. Bunker penyimpanan, ironi tentang kepasifan kita memandang hukum dan pirantinya, menghindari konflik.

Rentetan peristiwa itu membawaku pada ingatan 2 tahun yang lalu saat itu hujan turun dengan derasnya, menumpahkan peluh bumi yang mengendap di atas langit sana, sudah sehari penuh terik matahari menyengat, dan tengah malam adalah waktu yang tepat meredakan 'panas dalam' yang mendera udara sekitar yang kuhirup dan tanah yang kupijak. Tengah malam di akhir pekan, saat pesta liar baru saja dimulai di bagian jalan yang lain, Aku; Ula; Jali; Avuk; Boge baru saja menghabiskan seporsi cap cay kuah dan mie goreng, lelaku yang kami rencanakan untuk menonton pertandingan basket di sebuah Universitas di kota asalku harus kami akhiri di lantai 3 rumah Ula, karena ketika kami sampai di lokasi pertandingan, kami ragu apakah acaranya sudah bubar? Mengingat jam menunjukan pukul 21.30 lewat sementara kerumunan yang kami lihat di lapangan basket tersebut tak ubahnya seperti sekumpulan perampok makam. Aku menghirup kopi seduhanku saat rintik hujan benar-benar memaksaku harus kembali ke dalam ruangan. Terkadang kondisi semacam ini bisa sangat menyebalkan, terlebih aku ingin menikmati angin malam dan rokok sehabis makan. Demi membunuh waktu dan rasa penasaran Avuk atas film Superbad, kami pun memutar DVD tersebut, tak perlu banyak cerita soal film konyol satu ini, Jude Apatow memang ahli meracik komedi yang selalu identik dengan geek,alkohol, narkotika dan seks.

Suara tawa kami memang tidak dapat mengalahkan hembusan angin yang santer berhembus semakin kencang. Hujan malam itu contoh aktual seperti yang dikatakan Ula, Hujan Jangan Marah meminjam kepiawaan Efek Rumah Kaca. Di tengah film, tiba-tiba listrik padam! Ugh, ini mungkin kondisi menyebalkan kedua yang kudapati dalam tempo hitungan menit! tanpa temaram lampu dan guyuran hujan yang semakin lebat! Gerundelku sudah kelu untuk mengutuk kondisi ini, maklum dapat kupahami jalur distribusi tegangan PLN berada dalam titik rentannya saat hujan angin semacam ini, potensi pohon dan benda-benda pancangan yang membahayakan kabel-kabel ribuan Volt bisa mengancam jiwa seseorang. Aku cuma membayangkan akankah suatu ketika PLN benar-benar mengerti bahwa memadamkan aliran listrik pada waktu-waktu yang tidak dapat kutolerir itu termasuk perbuatan yang tidak menyenangkan yang dapat kujadikan somasi seperti halnya tabiat  selebritas atau pejabat negeri?. Naluri pelarian kejenuhanku berujung pada tuts telpon selular, sekedar memberi tahu bahwa pemadaman listrik adalah hal yang tidak asing pada waktu itu, dan sebuah ekspresi colongan, bukti bahwa dia yang dapat menenangkan kekesalanku waktu itu.

"Kapan kita mabuk bareng? Jack'D?" balasnya, setelah sekian pesan ia kirimkan.
           

            Ugh, iming-imingku soal sebotol whiskey 4 tahun lalu itu hinggap di memori bututku, yah aku pernah menawarkan khamer itu untuknya, tapi baru sekarang terngiang kembali setelah membaca pesan tersebut. Dia seorang praktisi kesehatan, dia bisa dikatakan muslimah secara harfiah, dan dia amat sangat tersanjung jika dikaitkan dengan salah satu dari 7 dosa besar : Lust atau nafsu. Sejauh ini hal-hal itu yang aku tahu, walau tak dapat dikatakan aku mengenalnya dengan baik secara utuh, justru aku malah tidak mengenalnya sama sekali, mungkin selama ini aku mencoba menjadi orang yang mengenalnya, setidaknya usahaku tidak buruk untuk seorang admirer, dan aku mengenalnya sebagai Ishtar. Usia kami sama dan telah melewati batas minimum untuk menenggak minuman keras secara bertanggung jawab, jadi jangan pakai satu pandangan moralitas dan religious sekalipun, karena meminum minuman keras hanya soal kesehatan dan izin semata, yah seperti yang kujelaskan kepada Jali seperti di atas minuman keras yang dijual di warung kelontongan selalu dicap illegal dan apa yang disajikan di gelas-gelas bartender selalu syah untuk ditenggak dengan imbalan nominal rupiah tertentu. Jadi minuman keras hanya soal legalitas semata, dan jika ini soal standar religius, maaf aku sudah tidak percaya soal itu, lagipula mendapati seseorang yang mengenakan hijab di kehidupan sehari-harinya meminum alkohol bagiku itu bukanlah masalah yang signifikan, kita bisa mengembalikan bagaimana ia yang masih percaya standarisasi dosa-pahala dapat menakar sesuatu dari bobot dosanya, karenanya jika yang bersangkutan merasa tidak memikirkan bagaimana beratnya siksa neraka, lalu kenapa orang lain yang mesti gusar?.
           

            Yang menarik dari isi pesannya adalah bagaimana aku dan dia, berada di satu ruang kamar kostnya, meracik minuman kami versi masing-masing, ia yang menyukai kemurnian minuman itu dan aku yang lebih menikmati coke sebagai pendamping. Berdua berlomba mencapai kondisi transenden kami masing-masing sesuai ketahanan kami karena tujuan kami berdua adalah mabuk, dan membayangkan bagaimana berada dalam kondisi tersebut bersama orang yang kamu inginkan, maka bagiku itu jauh melampaui rekreasi, kami punya chemistry yang akut soal berkomunikasi dengan idiom dan metafor yang cukup dimengerti oleh kami berdua, selama ini aku menikmati sinkronitas otak kami begitu pun ia. Jadi jika kontrol atas alam sadar kami diregangkan, aku tidak dapat membayangkan akan seperti apa komunikasi kami, aku tidak mengharapkan aktifitas apapun selain itu, bagiku mabuk dengannya adalah sesuatu hal yang bersifat kecintaan dan pencapaian intelektual dalam memaknai hidup kami masing-masing.

Mabuk adalah kondisi yang menyenangkan, aku menyukainya dan selalu membutuhkannya terlebih mengkondisikan diriku dan dirinya berada dalam ketidaksadaran akal masih menjadi tujuan, karenanya teman kerjaku tersebut mau mengorbankan kondisi fisiknya bangun jam 4 pagi berangkat bekerja dengan kepala yang sedikit berdenyut dengan porsi tidur cuma 5 jam untuk menikmati efek represitifitas tersebut demi membebaskan sejenak beban pikirannya. Jali, Mirwan dan semua pembayar pajak-pajak distribusi dan perdagangan miras rela menukar rupiah mereka demi berada dalam kondisi tersebut, bahkan bagi kelas masyarakat tertentu rela menghabiskan jutaan di pojok remang-remang demi standar sosial dan berasosiasi dengan daya pikat. Entah itu manusia modern atau pun yang masih belum mengenal TV, mabuk adalah salah satu penemuan terbesar manusia dalam mengontrol sisi lain dirinya, menghadirkan imaji-imaji tertentu, menjaga dan melahirkan inspirasi, melewatkan waktu tanpa fungsi alam pikiran yang utuh, menemukan pencerahan, atau menumpuk amarah. Mabuk membawa perubahan psikis kepada manusia dalam memandang kekakuan realita dan membawanya pada dimensi elastis yang justru tidak nyata. Prosesi mabuk pun tidak serta merta harus dengan katalis alkohol, beragam cara telah ditemukan, bahkan prosesi spritual tertentu bisa membawa seseorang pada fase transendensi ini, seorang sufi bisa menikmati kondisi kelaparannya, atau lebih tepatnya teralihkan akibat kemabukannya kepada entitas tunggal dalam pikiran mereka. Dan manusia-manusia yang tidak terlatih untuk menertibkan alam bawah sadarnya mengambil cara-cara fisik dengan melewatkan zat-zat katalis lewat kerongkongan dan tenggorokan mereka atau menginjeksikan ke dalam aliran darahnya demi bertemu alam yang di dalamnya hanya ada dirinya, sesuatu yang ia percaya sebagai hal yang menenangkan.

        Hanya di dunia yang kaku dan membosankan yang mengharamkan kemabukan yang seperti itu.


Posted at 08:11 am by saratdusta
Make a comment  

Saturday, March 20, 2010
Ada hal yang membahagiakan jika kamu menyadari bahwa apa yang tidak ada pada diri orang lain bisa menjadi kebahagiaanmu, dan kebahagiaanmu bisa menjadi petaka bagi sebagian yang lain.

           Aku beranjak dari kasurku, tidak kusadari malam ini adalah sabtu malam jika saja kekasihku tidak memberitahukannya, ada hal yang istimewa bagi sebagain orang jika sabtu malam menjelang. Semua kegiatan malam ini dikonotasikan dengan cinta dan napsu. 40 menit sebelumnya aku baru menyelesaikan menonton Mother of Tears-nya Dario Argento, tidak banyak memang yang bisa kulakukan pada hari off-ku, hampir satu hari penuh aku tertidur tadi siang, dan ketika bangun tidur hal yag paling awal kulakukan ketimbang mandi dan berbersih diri adalah menjelajah berkas di laptop, dan jadilah kutonton sebagian film hasil unduhan yang belum sempat kutonton, hitung-hitung mengisi hari liburku dari kerja. Selanjutnya botol - botol kaca bening dengan bentuk gepeng gendut kubereskan kuatur rapi di sudut ruangan dengan botol kaca hijau gelap. Sudah 3 hari ini aku melewatkan cairan pahit itu melalui tenggorokanku sebelum berangkat tidur dan mendapati benda - benda itu bergelatakan begitu saja tampak tidak semenyenangkan ketika menghabiskan isinya.

           

            Pukul 9 malam, aku ingin makan dan membeli rokok, aku menuju rumah induk semang kost-ku, berharap ada yang bisa dimakan di sana, aku menyewa kost yang lengkap dengan fasilitas makan dan cuci pakaiannya, jadi biasanya sepulang kerja aku pergi ke sana untuk makan malam atau makan pagi dan juga mengambil pakaian bersihku. Dengan kecewa kudapati menu makan malam dengan lauk dan sayur yang tidak kusuka, aku memutuskan untuk makan di luar. Kukemasi pakaian bersihku dari tumpukan pakaian - pakaian penghuni yang lain. Dengan gontai aku menjinjing pakaian tersebut ke luar rumah mencari rokok dan makanan. Aku masih berbincang dengan kekasihku lewat telepon ketika kudengar tapak kaki di belakangku, tampak bergegas dan aku kemudian menepi ke kiri karena kutahu ia berjalan di belakang kananku. Tak lama orang itu berlalu di sampingku, seorang pria bertubuh kurus, tinggi, berwajah tampan walau ada janggut tipis di dagunya, kepalanya ditutupi peci sulaman yang selalu diidentikan cenderamata dari Mekkah cuma warnanya tidak terlalu putih seperti umunya peci pak haji, warnanya agak sedikit buluk, ia mengenakan kemeja hijau keputih-putihan yang tidak dikancing di atasnya, atau lebih tepatnya itu mungkin baju koko yang menutupi kaos oblong abu-abu pudar, celana panjangnya tampak menggantung di atas mata kaki, tampak tidak digosok karena hanya kerutan yang tidak merata yang dapat kulihat dari kainnya. Aku mengetahui jenis orang semacam ini ketika kudapati ia mengamit tas coklat muda yang minim muatan di lengan kirinya. Ia tiba - tiba berkata " Mas..." berlalu sambil menundukan sedikit kepalanya, sebuah isyarat ketika orang permisi untuk lewat. Dan ia tersenyum pula ketika selesai mengucap satu kata itu. Sebuah senyum yang tulus kurasa, karena kami sama - sama tidak mengenal satu sama lain. Senyuman yang jauh lebih baik dari senyum anak - anak di NTB sana ketika dimuat dalam iklan air mineral, atau senyum yang dipilih lewat seleksi ketat orang - orang advertising untuk mencitrakan sebuah produk pasta gigi, bukan tipikal senyum indah semacam itu, karena jarang kudapati orang tersenyum semacam itu kecuali sedang benar - benar bahagia atau baru saja menerima pujian dari lawan bicaranya. Dari senyum pria itu terpancar kebahagiaannya, walau ia tidak mengatakannya aku tahu ia cukup bahagia, dan aku tahu bagaimana susahnya menjadi seorang musafir.


            Selesai membeli rokok aku kembali ke kostku, duduk berselonjor kaki di pagar beton teras rumah dan kusulut batang pertama. Aku masih mengingat pria itu, seorang musafir yang kutahu sebagai golongan muslim yang mencari nilai - nilai religius ketuhanan serta kekhusyukan pendekatan diri dengan Rabb-nya lewat penegakkan dakwah melalui pengembaraan ke tempat - tempat yang tidak dikenal olehnya. Butuh keberanian dan keyakinan yang kuat untuk menjadi seorang musafir yang menegakkan nama Allah, butuh keimanan yang pondasinya cukup stabil untuk meyakinkan diri bahwa rezeki Allah dapat datang kapan saja ketika dirinya menjaminkan kehidupannya untuk Allah. Kepasrahan diri semacam ini mendatangkan kebahagian di kemudian hari kelak dalam sudut pandang religius, berupa surga atas keyakinannya kepada kuasa Allah dan kerelaannya menegakkan kalam Allah. Senyum pria itu memancing diriku untuk turut pula tersenyum sambil kuhirup asap rokok mentholku. Aku tahu aku baru saja merasa senang, seperti sebuah luapan kegembiraan yang datang tiba - tiba ketika kamu baru turun dari angkutan umum di depan rumahmu setelah bertahun - tahun meninggalkan keluargamu. Aku tahu malam ini adalah sabtu malam, malam dimana semua orang seperti dikondisikan untuk dapat merasa bahagia, dan aku tak peduli soal malam ini, tidak peduli aku tidak pergi berkencan, tidak peduli tidak ikut berbaur dengan kawan - kawan kerjaku, tidak peduli walau bau badanku sudah santer tercium karena belum mandi. Aku bahagia karena aku menemukan hal yang serupa pada pria itu di diriku, pria yang mengingatkanku pada Christoper Jhonson McCandless aka Alexander Supertramp, yah keduanya memang punya tujuan yang berbeda, tapi keduanya identik soal aktifitas pengembaraan mereka. Hal yang kuidam-idamkan selama ini, melanglang sejauh mungkin meninggalkan kondisiku yang stabil sebagai individu yang hidup dengan rutinitas mandul. Keduanya sanggup menimbulkan perasaan yang emosional di hatiku malam ini, jika aku menangis ketika melihat visual Alex di tubuh Emile Hirsch ketika ia membakar uang dan memusnahkan kartu identitas, atm, dan kartu JPS-nya, pria berjanggut tipis yang tak bernama itu membuatku tersenyum lebar di teras yang tak berlampu ini. Keduanya punya senyum yang serupa seperti senyum Alex di depan Magic Bus-nya. Dan ini bukan hiperbolik.

 

            15 meter atau lebih dari tempat aku duduk kulihat sepasang pria dan wanita sedang membicarakan sesuatu, aku sempat melintas di samping mereka ketika hendak membeli rokok tadi. Si pria bertelanjang dada duduk di kendaraan bermotor milik si wanita, dan si wanita mengenakan kemeja putih yang mirip piyama, masih mengenakan helm putih standar dan berdiri di sudut keremangan, ketika aku melintas tadi si wanita kudengar menangis sesegukan sambil berbicara dengan logat daerah, dari kalimatnya aku tahu si wanita sedang bertengkar dengan si pria soal percintaan. Sedikit ganjil melihat mereka dari sini, dan kutahu si pria musafir itu juga pasti melihat mereka ketika keluar dari gang ini. Kontradiksi memang dengan apa yang baru saja kurasakan saat insiden senyuman itu, mereka berdua berada pada kondisi emosional yang berbeda denganku, ini seperti membuatku merasa bahwa tidak ada yang salah dengan hidupku. Aku meraih telepon genggamku dan menulis pesan " Gmana rasax jd musafir? Td ktemu salah satu dr mereka dan menegurku dgn snyuman yg tulus..ia berbagi kbhagiaan dgnku." Kukirimkan ke beberapa temanku, sejenak aku terdiam menatap pasangan tersebut yang seolah - olah sedang memperagakan pertunjukan pantomim, lalu kuhisap nyala bara yang sudah hampir menuju filternya ini sambil menarik napas panjang dan melemparkan puntung rokok ini ke jalan dan menghembuskan asapnya mengaburkan adegan pantomim itu. Aku muak dengan mereka, dan perutku pun minta diisi.

           

***

            Sepiring nasi goreng dihidangkan di hadapanku, tepat di sebelah warung ini sebuah acara musikal sedang dilangsungkan, bertempat di aula serba guna balai desa, bendera sponsor tampak menghiasi halaman depan gedung itu, tali - tali pembatas lahan parkir dadakan tampak merentang seadanya membentuk jalan masuk satu arah. Banyak pengendara motor di sini dan banyak pula wanitanya, untuk masuk ke dalam gedung harus membayar tiket, memang tidak ada yang gratis di areal yang dikelilingi perusahaan pertambangan semacam ini. Dapat kubaca banner yang terpampang indie music tertulis di sana, dan sayup - sayup kudengar suara dari dalam gedung, akustik gedung tampaknya jelek mengingat gedung ini biasanya cuma dipakai untuk sarana bulu tangkis di malam harinya dan dari band - band yang tampil aku tahu yang dimaksudkan sebagai indie music di acara ini. Aku cuma tersenyum. Inilah suasana sabtu malam yang ideal bagi para remaja di tempat ini, acara musik, para gadis bertebaran, prianya keluar dengan kendaraan bermotor terbaik dan yang ter-update milik mereka atau bahkan pinjaman. Mereka menikmati malam ini sesuai definisi dari sabtu malam yang seolah lebih panjang dari malam - malam lainnya, seingatku senin dan kamis malam adalah malam yang baik untuk berdoa dan bercinta seperti yang disunnahkan sebagai ibadah, demikian kelakar masyarakat kebanyakan. Aku menandaskan isi piringku dan pikiranku berputar di dalam satu siklus tentang standar idealisasi yang diinginkan oleh masyarakat, entah itu penghasilan, fisik, harta benda, derajat, karir dan jabatan, nilai - nilai akademis dan status pendidikan. Aku kembali memikirkan pria berjenggot itu, apakah ia sudah tidak dipusingkan oleh hal - hal semacam itu? apakah ia sudah terlalu mabuk dengan tiket surga yang dijanjikan oleh Tuhannya tapi belum ia pegang sama sekali?, di gedung ini aku belajar aksioma yang diakui di seluruh gedung - gedung pertunjukan, tiket menjamin seseorang untuk masuk ke dalam gedung dan menikmati pertunjukan, tanpa tiket tak ada jalan masuk. Hiruk - pikuk orang di sekitar warung yang mengantri di lajur tali pembatas itu membuatku menyadari betapa besarnya daya magnet sebuah aktifitas massa yang berkaitan dengan seni budaya, aku cukup menyadari apa yang mereka dengar di dalam sana jauh dari definisi indie music dan semua generalisasi yang terjadi akibat peran pemodalan dalam membentuk imaji dalam pikiran kita dan peran media yang latah dalam mendefinisikan standar tertentu terkadang memelintir maknanya demi tujuan tertentu. Kita hidup di dalam masyarakat tonton - menonton, interaksi di dalamnya bahkan cenderung polesan dan artifisial. Pria berjenggot itu mungkin hanya berbekal 4 pasang atau lebih sedikit pakaian di dalam tas coklatnya, dan entah kenapa pakaiannya yang memudar dan berkerut - kerut karena tak pernah disetrika itu selalu menjadi ciri khas para musafir, justru tampak elegan sebagai jubah kebesaran identitasnya. Entah apa aku terlampau ber-euforia atau aku menangkap gejala - gejala masyarakat kita yang sudah tidak pernah bisa memilih menjadi identitas mereka sendiri. Seolah semua ini cuma bersumber dari kenekatan dan pendeknya akal.

 ***

" What make u feel so happy? ", Sebuah sms masuk, ini jawaban dari Ula atas sms-ku tadi.

 

"Tidak merasa sepenuhnya seperti itu, tapi kesenangan yang dipancarkan pria itu, mengingatkanku akan pilihan dan konsekuensi. Itu yang membuatku senang karena aku telah memilih." Aku pun beranjak dari tempat itu. Semakin lama hingar bingar itu mengecil di belakang telingaku.


Posted at 11:38 pm by saratdusta
Make a comment  


Next Page

   



<< September 2016 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30

Thus Spoke Saratdusta
'JD Salinger

"Don't ever tell anybody anything.
If you do, you start missing everybody."
-The Catcher In The Rye, J.D salinger

Personal Rants: Music Junks: Those Who Loves to Draw:


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed